Tips dan Info Wisata: Watu Ulo yang Mulai (sedikit) Berbenah

Minggu yang cukup bising oleh lalu lalang kendaraan bermotor. Jalan raya cukup padat. Sepertinya hampir semua orang berebut keluar rumah untuk segera sampai ke tempat tujuan. Entah karena ini hari terakhir libur panjang (natal, tahun baru dan libur semester) atau sebuah rasa tidak rela jika besok harus beraktifitas kembali.

Saya sendiri pada akhirnya memutuskan bergabung bersama mereka yang mencari tempat berlibur di hari terakhir. Pilihannya jatuh pada Pantai Watu Ulo di Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu. Ini sebagai pelampiasan rasa penasaran saya pada Pantai yang satu ini.

Kali ini saya tidak sedang menceritakan mengenai mitos Legenda Watu Ulo akan tetapi mengenai perubahan yang sedang terjadi di Pantai Watu Ulo.

Foto diambil disini

 

Kita tahu bahwa pada jamannya dulu Pantai Watu Ulo ini pernah sangat populer dan menjadi wisata primadona masyarakat Jember dan sekitarnya. Jaman ketika istilah ngetrip-ngetripan masih dalam kandungan. Hingga kemudian Tanjung Papuma pun bangkit dan berbenah lantas mengalahkan kepopuleran Pantai Watu Ulo. Gaung keelokan Tanjung Papuma bahkan terkenal hingga mancanegara seiring juga dengan kepopuleran Event JFC yang mendunia itu.

Petik Laut Papuma

Petik Laut Papuma

Bukannya terjaga dan bangkit dari keterpurukan, Pantai Watu Ulo justru malah semakin lelap tertidur ditengah geliat para traveller mencari eksistensi sebuah profesi baru. Ya, Pantai Watu Ulo dengan pengelolaan ala kadarnya terkadang mendapatkan gangguan konflik internal eksternal yang memperburuk keadaannya. Penginapan yang (kalau tidak salah) satu-satunya pun hancur akibat amuk massa.

Setahun belakangan, Pantai Payangan yang sejatinya masih satu garis pantai dengan Pantai Watu Ulo justru langsung berlari dari yang sebelumnya hanya dianggap pemukiman kumuh nelayan dan tempat BAB warga sekitar. Eksotisme Bukit-bukit yang berada dibibir pantai menjadi tempat menarik bagi para traveller sebagai salah satu destinasi wisata yang wajib dikunjungi. Pengelolaan Pantai Payangan dilakukan secara sporadis oleh warga Payangan sendiri melalui kelompok-kelompok masyarakat nelayan.

Teluk Love dari Gunung Sroyo Payangan

Teluk Love dari Gunung Sroyo Payangan

Berbeda dengan Tanjung Papuma yang dikelola oleh Perhutani dan harus membayar (cukup) mahal untuk tiket masuk dan karcisnya apalagi di musim liburan, Pantai Payangan cukup dengan membayar parkir yang dikelola tiap-tiap kelompok masyarakat. Tiket hanya dikenakan apabila naik di Bukit Domba (Gunung Sroyo) atau di Bukit Sambujo dengan biaya lima ribu rupiah.

Biasanya wisatawan dari luar kota menjadikan dua tempat itu destinasi wisata sekaligus karena berdekatan. Sayangnya mereka harus melewati jalur putar untuk menghindari karcis di Pantai Watu Ulo. Tiket Karcis sebesar Rp. 12.500,- di hari libur dikenakan kepada siapa saja yang melewati jalan Pantai Watu Ulo ini sekalipun tidak mengunjungi pantainya.

 

Saya bersama istri dan ALbirru mengunjungi Pantai Watu Ulo karena kabarnya disana ada Kursi santai seperti di Pantai-pantai di Bali atau di Pulau Merah Banyuwangi. Menjelang siang kami sudah sampai di Pantai Watu Ulo. Setelah melewati Pos Tiket Masuk kemudian kami memarkir kendaraan di lokasi yang paling dekat dengan kursi santai itu. Biaya parkir yang dikenakan untuk kendaraan bermotor Roda Dua sebesar Rp. 2.000,-.

Kami langsung menuju ke kursi pantai yang berjajar, mencari tempat yang paling teduh diantara yang panas. Sayangnya memang di Pantai Watu Ulo cukup panas karena kurangnya Vegetasi Pantai semacam Cemara Laut atau Pandan Laut. Biaya sewa kursi pantai sepasang ini sebesar Rp. 20.000,- tanpa batas waktu (asal masih sehari).

Kursi Pantai ini bertuliskan “Disnakertrans Dana Dekon 2015”. Rupanya ini bantuan dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Jember yang kemudian dikelola Kelompok Masyarakat Wisata Watu Ulo. Dari sumber informasi yang saya dapatkan bahwa pengerjaan kursi pantai ini dilakukan oleh kelompok masyarakat purna TKI. Sayangnya saya masih belum mendapatkan informasi kontak pembuatnya.

Minusnya dari Pengelolaan Pantai Watu Ulo saat ini adalah kondisi Pantai yang masih kotor. Pihak pengelola dan juga pengunjung masih saja tidak perduli pada sampah. Minimnya tempat sampah juga memperkuat kondisi kotor ini. Saya juga menyayangkan Pos Tiket Masuk yang berada di Barat dan Timur sepanjang jalan Pantai Watu Ulo. Seandainya Pos Tiket Masuk berada di pinggir-pinggir jalan seperti Wana Wisata Pasir Putih Situbondo dan membebaskan jalan untuk dilewati siapapun mungkin saja Pantai Watu Ulo akan menjadi ramai kembali. Karena bisa menarik minat wisatawan yang melintasi jalur Tanjung Papuma-Pantai Payangan.

Nantinya juga diharapkan bisa meningkatkan kondisi perekonomian masyarakat sekitar Jalan Pantai Watu Ulo dengan pendirian HomeStay, Toilet Umum atau Kios Cinderamata dan Warung Makanan. Semoga saja Pantai Watu Ulo bisa mengembalikan masa kejayaannya seperti dulu.

 

 

Artikel ini turut mendukung gerakan PKK Warung Blogger

12 thoughts on “Tips dan Info Wisata: Watu Ulo yang Mulai (sedikit) Berbenah”

  1. Sayang sekali ya, kalau objek wisata yang cantik ini tidak dikelola secara baik. Hal sama sebetulnya terjadi pada beberapa destinasi wisata di daerah-daerah kecil. Semoga pihak-pihak terkait dapat semakin meningkatkan pengelolaannya, sehingga benar-benar bisa menjadi obyek wisata yang ramah bagi pengunjung..

  2. Nice! Bagus tulisannya. Fotonya besarkan saja, Cak. Biar kelihatan jelas.
    Aku jadi tahu nama bukit gunung yang aku daki kemarin namanya Sroyo. Yang bisa lihat Teluk Love itu. Bayar 5 ribu. Tapi sayangnya sampah di mana-mana. 🙁 Dan kalau nggak salah tahun 2010 Pantai Payangan itu memang kondisinya biasa saja. Aku pernah main ke situ di ajak kawan. Sekarang dibuka luas begitu.
    Dan aku baru tahu juga kalau di Papuma itu sekarang ada dudukannya. Lama sekali nggak ke sana. 😀 Trakhir Bulan Agustus 2015 belum ada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *