Sembilan Tahun Berlayar Bersama

Perahu ini masih mengarungi samudra luas. Tidak terasa juga telah sembilan tahun kita berlayar bersama. Dan entah berapa lama lagi kita akan sampai pada tujuan.

Tepat sembilan tahun yang lalu. Dengan penuh keyakinan dan kemantapan hati. Aku mengajakmu berlayar bersama. Tentu saja kita sama-sama tidak pernah tahu seberapa besar gelombang disana. Adakah kita menemui badai atau hanya lautan yang landai saja.

Menjadi Nahkoda. Kupikir adalah hal yang biasa-biasa saja. Mengalir saja. Namun, tidak sesederhana itu. Begitupun menjadi Mualim. Posisimu tentu saja. Adalah hal yang sama tidak biasanya. Jika tidak ingin dibilang susah mungkin. Walaupun dalam kenyataannya memang begitu.

Kita sama-sama kelimpungan menjalankan peran masing-masing dalam perahu ini. Menertawakan setiap kesalahan adalah cara paling ampuh pastinya untuk mempertahankan perahu ini tetap berada pada lajurnya. Diam dan berdoa pun menjadi upaya kita. Walau tak jarang kita saling berperang mempertahankan ego. Lumrah. Manusiawi.

Dalam satu tahun pertama Gelombang besar telah datang menghampiri. Belum memiliki keturunan adalah sebesar-besarnya gelombang kala itu. Bukankah sebuah perahu yang berlayar belum lengkap jika belum ada Anak Buah Kapal.

Belum selesai dengan Gelombang pertama. Kita telah berhadapan dengan Badai besar bernama Ekonomi Surut. Bayangkan saja. Logistik berada di ambang batas.

Tapi kita bahu membahu. Saling menguatkan. Dan berhasil mengatasinya. Apalagi jika bukan karena kita sama-sama berpegang teguh pada Navigasi paling handal. Ya, AL Quran dan Sunnah Rasulullah SAW.

Jika perahu kita oleng. Mungkin karena kita sedikit abai untuk terus memperhatikan navigasi itu.

Perahu ini akan dan harus terus berlayar, Kekasih. Hingga kita sama-sama sampai pada akhir perjalanan dengan Khusnul Khotimah.

Mengajarkan setiap hal yang kita ketahui kepada Anak kita. Itulah prosedur wajib yang harus kita lakukan di perahu ini. Selain tetap menjalankan peran masing-masing tentunya. Dan saling bisa menggantikan posisi pastinya.

Telah melewati badai bukan menjadi tidak mungkin kita akan menghadapi badai kembali. Belajar pada pengalaman terdahulu menjadi kunci pembuka untuk bertahan. Karena badai pasti akan berlalu. Yang dibutuhkan hanyalah menikmati prosesnya sambil terus menjaga arah.

Maaf, logistik kita masih belum berlimpah. Maka tidak ada pesta untuk perayaan kali ini. Mari berdoa saja agar perahu ini jauh lebih baik kedepannya.

Selamanya

Sampai kita tua

Sampai jadi debu

Ku di liang yang satu

Ku di sebelahmu

Mari kita merayakannya dengan memberi kawan lagi pada ABK kita.

 

Yang terus saja mencintaimu,

Abi Oyong

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *