Pilihan

Kawan saya berkata bahwa Hidup itu tentang pilihan. Setiap saat kita dihadapkan pada beberapa hal yang mengharuskan kita untuk memilih satu saja. Eja, kawan saya itu menyampaikannya disela-sela kesibukannya menyalami kawan-kawan lain yang berdatangan silih berganti.

12140628_10200899358404242_4570839872497100310_n

Malam itu saya sengaja berkunjung ke gerai nya “Jember Banget” bersama ALbirru anak saya. Untuk membeli beberapa kaos sebelum Jember Banget tutup lama entah untuk berapa lama. Eja memilih untuk ikut suaminya ke Berau, mengabdikan diri sebagai seorang istri.

Di hari yang sama, saya pun melakukan sebuah pilihan yang telah hampir setahun ini mengganggu pikiran. Tentang rutinitas saya di dunia daring. Setelah bergumul dengan pikiran sendiri dan meminta saran istri, saya putuskan untuk menutup semua akun media sosial saya dan menyisakan facebook saja sebagai media untuk berhubungan dengan kawan-kawan di dunia maya.

Tentu banyak yang menanyakan alasannya kenapa.

Sebelum menjawabnya saya ingin bercerita terlebih dahulu. Saya cukup aktif di media sosial sejak Aplikasi yang bernama Friendster muncul dan kemudian beralih menggunakan Facebook sejak 2009. Ketika itu media sosial hanya saya pergunakan untuk mencari kawan-kawan lama. Serius menggunakan media sosial sejak akhir tahun 2011 untuk keperluan berbagi informasi kegiatan sosial yang saya geluti.

Saya concern menggeluti kegiatan sosial salah satu alasannya karena ingin segera memiliki keturunan. Maklum saja sejak menikah desember 2007 masih belum diberi kesempatan untuk memiliki anak. Keinginan saya terwujud 1,5 tahun setelahnya. Tidak ada yang berubah pada rutinitas saya menggunakan media sosial sekalipun saya memiliki anak. Disinilah lucunya. Disaat saya sudah memiliki anak justru saya tidak pandai membagi waktu. Ya, walaupun saya tahu itu tidak baik. Walaupun saya tahu perihal tumbuh kembang anak.

12046774_10200899359204262_2557812805291532914_n

Itulah alasannya kenapa harus tutup akun.

ALbirru sudah 2 tahun 7 bulan, saya tidak ingin kehilangan banyak moment dalam perkembangannya. Dan tentu saya tidak ingin disebut sebagai hambaNYA yang kurang bersyukur. Saya melakukan segala hal hanya untuk anaknya, Abi macam apa yang kemudian saya mengabaikannya.

Tulisan ini hanya sebagai pengingat bagi saya pribadi jikalau lalai dan lupa. Maklum saja bukan hanya karena manusia tempatnya salah dan lupa, tetapi memang saya seorang yang pelupa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *