Petik Laut

Indonesia memang kaya dengan budaya dan kearifan lokalnya. Mulai dari suku bangsa, bahasa daerah, lagu daerah, pakaian adat, rumah adat, hingga ritual budaya. Ada jutaan mungkin warisan budaya Bangsa ini. Hingga kitapun beberapa kali kecolongan/kehilangan. Warisan Budaya kita diakui oleh Negara lain (Malaysia) seperti Batik, Tari TorTor, Reog, dan Lagu Rasa Sayange. Memang ada banyak kemiripan antara Indonesia dengan Malaysia tidak lain adalah karena Indonesia dan Malaysia dulu masih Nusantara dibawah kepemimpinan Patih Gajah Mada.
Sebenarnya tak perlulah kita terus menerus memaki-maki Malaysia karena “mencuri” budaya kita. Yang perlu dilakukan adalah introspeksi diri sendiri. seberapa besar sih upaya kita untuk menjaga, mempertahankan, melindungi dan melestarikan budaya kita? Rasa cinta kita terhadap budaya Bangsa seringkali menguat bahkan ketika budaya kita dicuri! Sebelum dicuri? kita seringkali bermalas-malasan ataupun enggan ketika disuruh memakai pakaian batik. Malu dan takut dicemooh karena dianggap mau pergi ke resepsi pernikahan.
Indonesia adalah Negara Maritim. Sehingga seringkali budaya-budaya kita banyak dimulai dari daerah pesisir. salah satu budaya daerah pesisir yang sampai saat ini masih terus dipertahankan adalah ritual petik laut. Jember yang berada di sisi selatan Pulau Jawa juga memiliki daerah pesisir yang konon juga termasuk daerah peradaban tertua.
Ada enam kecamatan di Jember yang merupakan kecamatan pesisir yaitu: Kencong, Gumukmas, Puger, Wuluhan, Ambulu dan Tempurejo. Dikarenakan Kecamatan yang masyarakatnya banyak memanfaatkan keberadaan laut sebagai lahan pencarian hanyalah Kencong, Puger dan Ambulu maka Ritual Petik Laut yang tumbuh dan terus hidup adalah di tiga kecamatan tersebut.
Petik Laut adalah sebuah bentuk ritual yang didasari dari kearifan lokal masyarakat. Hampir setiap kawasan berpesisir di Indonesia memiliki ritual Petik Laut dengan nama yang berbeda-beda. Tujuan Petik Laut dilakukan adalah sebagai bentuk rasa syukur dari masyarakat Nelayan atas berkah ikan yang didapat selama setahun kemarin. Setahun ini bukan menggunakan tahunan dalam kalender Masehi melainkan kalender Jawa. Maka Petik Laut selalu dilaksanakan di Bulan Suro dalam Kalender Jawa.
Petik Laut itu juga merupakan pengharapan dari Masyarakat Nelayan agar ditahun depan mereka mendapatkan Ikan yang jauh lebih banyak lagi dari tahun kemarin.
Semestinya Ritual-ritual Petik Laut itu selalu dilaksanakan tepat pada tanggal 1 Suro. Awal hari didalam kalender Jawa itu tidak mengikuti perhitungan jam yaitu 00:00 tetapi mengikuti terbenamnya matahari dan muncul bulan baru persis seperti perhitungan kalender hijriyah karena menggunakan perhitungan bulan baru. Jadi ritual petik laut dimulai tepat setelah senja menghilang.
Sesepuh Desa dan Istri Kepala Desa Puger Wetan
 
Doa yang dipimpin Sesepuh Desa di papuma
Awal ritual Petik Laut adalah menghantar sesajen yang biasanya dibuat oleh sesepuh desa/ tokoh desa dan dibawa ke Balai Desa untuk didoakan oleh seluruh masyarakat Desa setempat. Sesajen utama biasanya menggunakan kepala hewan entah itu kepala kambing atau kepala sapi. Kalau kambing maka harus dua ekor dengan warna bulu hitam dan satunya berbulu putih. dan untuk sapi maka cukup satu ekor. Sesajen lainnya adalah tumpeng, patung penganten, ayam putih, dan makanan-makanan lain yang umum dimakan oleh masyarakat nelayan kelas bangsawan dengan harapan agar masyarakat semuanya bisa menikmati makanan yang serupa dikemudian hari. Sesajen utama disini selalu diletakkan di dalam perahu kecil yang nantinya akan dilarung.
Sajen Penganten
 
Sajen Tumpeng
 
Sajen Utama berupa Dua Kepala Kambing dengan Bulu Hitam dan Putih
Setelah selesai berdoa maka dilaksanakan pagelaran wayang kulit semalam suntuk. Sampai pada saat munculnya matahari maka dalang akan melakukan ruwatan desa. Disini ketika penonton/masyarakat melihat acara ruwatan maka dilarang pulang atau meninggalkan lokasi ruwatan sebelum acara ruwatan benar-benar berakhir. Biasanya acara ruwatan ini memakan waktu 1-2 jam. Jika seseorang meninggalkan acara ruwatan sebelum acara ruwatan benar-benar berakhir maka yang kerap terjadi adalah orang tersebut akan kesurupan atau lupa jalan pulang. Acara ruwatan ini sebenarnya acara pemanggilan arwah-arwah para sesepuh desa untuk memohon ijin bahwa masyarakat desa akan melakukan larung saji.
Wayang Kulit
Kemudian pada siang harinya sesajen kembali didoakan dan dilakukan upacara pelepasan untuk dilarungkan dilaut. Setelah selesai maka masyarakat pun turut mengiringi proses pelarungan sesajen yang nantinya akan dilepas ditengah laut. yang dilepas dsini umumnya sesajen utama. sedang untuk sesajen lainnya akan ditaruh ditempat sesajen yang ada di balai desa.
Upacara Pelarungan
 
Mengiringi Pelarungan
 
Sesajen yang ditinggalkan
 
Larung saji
 
 
Setelah pelarungan biasanya perangkat desa akan memberikan hiburan bagi masyarakatnya berikut dengan makan bersama di balai desa.
Saat ini, petik laut tidak lagi dilaksanakan persis seperti yang saya ceritakan diatas. hanya saja memang tetap dilaksanakan di bulan suro walau gak tepat tanggal 1 suro.

Catatan:
Jadwal Petik Laut yang sudah dilaksanakan kemaren:
1. Desa Puger Wetan dan Puger Kulon tanggal 29 Nopember 2012
2. Desa Paseban Kencong tanggal 30 Nopember 2012
3. Dusun Watu Ulo Desa Sumberejo Kec. Ambulu tanggal 4 Desember 2012
4. Tanjung Papuma Kec. Wuluhan tanggal 5 Desember 2012
5. Dusun Payangan Desa Sumberejo Kec. Ambulu tanggal 7 Desember 2012

Thanks to: @ina_dcalista @sahadbayu @GallantYP @two_mean @HajarDanang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *