Monas sebelum 2 Desember


Ini kali kelima saya naik pesawat dan untuk ketiga kalinya berkunjung ke Jakarta. Katrok memang. Biarlah sudah.

Sebagai generasi Digital tentu saya harus memanfaatkan teknologi untuk mempermudah proses kehidupan. Halah.

Tiket pesawat saya pesan melalui aplikasi traveloka demi mencari tiket yang murah, sesuai jadwal dan yang terpenting adalah paperless. Kertas baru saya terima ketika check in.

Hujan mulai turun ketika citilink yang saya naiki lepas landas. Turbulensinya lumayan. Tentu saja ada rasa takut dan khawatir. Entah sejak Srigyala berpulang, saya sering waswas di perjalanan.

Mata tidak bisa terpejam. Padahal beberapa penumpang lain sudah saling ngorok bersahut-sahutan. Beruntung mendarat dengan aman di Cengkareng.

Damri sudah siap mengantarkan saya menuju Gambir. Cukup dengan merogoh kocek Rp. 40.000,- saja dan membayarnya di loket damri depan terminal 1.

Di depan tempat saya, duduk seorang Daeng dari Makassar. Saya mencuri dengar ketika Daeng berbincang dengan sesama penumpang yang duduk di sebelahnya. Dalam potongan pembicaraannya, dia menyampaikan kalau datang ke Jakarta sendirian untuk ikut aksi super damai.

Stasiun Gambir adalah pemberhentian terakhir. Saya langsung menuju ke dalam stasiun. Di lantai 2 ada sebuah Hotel Transit tempat saya bermalam.

Malam telah larut tapi tidak bagi Jakarta. Dalam lelap saya bermimpi ke-ambruk-an Kereta. Ah, iya kereta melintas tepat di atas kamar yang saya tinggali.

Pintu kamar diketuk. Masih dalam keadaan kantuk, saya membuka pintu dengan malas. Seorang lelaki dengan wajah tersenyum memberikan sepiring nasi goreng plus telur dadar kepada saya. Dengan tertegun saya menerimanya. Ah, rupanya itu tadi Office Boy Hotel. Siapa juga yang sarapan sepagi ini. Di layar smartphone waktu menunjukkan pukul 06.05.

Setelah sempat terlelap kembali 30 menit, saya segera mandi dan menandaskan nasi goreng yang telah anyep. Lalu bergegas menuju kantor di seberang stasiun.

Untuk urusan kantor tak perlulah saya bercerita. Cukup bikin pusing dan bosan pastinya karena harus berkutat dengan anggaran. Bukan saya banget. Mending saya di pesisir bersama Nelayan-nelayan yang menanam Mangrove.

Untuk mengobati kangen, saya sempatkan bertemu dengan kawan-kawan ketika kuliah dulu. Tentu tidak bisa semua datang. Saya cukup mengerti pekerjaan mereka. Apalagi di bawah kepemimpinan Menteri Susi yang luar biasa ini. Kerja kerja kerja.

img_20161202_090600

MONAS. Berada tepat di belakang stasiun Gambir. Sebenarnya cukup dengan lompat pagar saja sudah sampai. Itu kalau mau ditangkap oleh Aparat yang berjaga di sekitar Monas.

Sempat salah arah lalu kembali ke jalan yang benar. Menuju Monas sebenarnya mudah. Menjadi susah karena belum tahu. Cukup mencari Balai Kota. Pintu masuk ke Monas ada di seberangnya. Melewati Food Court Lenggang Jakarta dan masuk ke Gerbang menuju Monas.

img_20161202_090627

Ada kereta kecil yang melalui TOA mengumumkan akan mengantarkan pengunjung masuk Monas. Saya enggan menghampiri. Khawatir bayar, karena masuk ke dalam Monasnya nanti pasti bayar.

Dengan berjalan kaki saya menuju bangunan tinggi menjulang. Ada cukup banyak yang berekreasi. Bahkan beberapa orang Jakarta (terlihat dari logat betawinya) pun ada yang baru pertama kali.

Di sepanjang jalan beberapa bivak berdiri. Aparat keamanan bersliweran. Dan rombong-rombong makanan berjajar mengitari taman sekeliling tugu monas. Persiapan Parade Kebangsaan yang akan digelar esok hari.

Dalam proses pra acara yang dilakukan sepasang MC sepertinya akan hadir Slank dan Gus Mus.

Saya masih mengitari tugu monas mencari jalan untuk masuk ke dalam. Bingung. Tiap kali tanya jawabannya tidak pernah tepat menunjukkan arah.

Saya lalu mendekat ke pagar. Meneriaki orang yang ada di dalam tapi tidak dihiraukan. Jadi seperti berada di dua sisi yang berbeda. Eh, memang iya ya. Lalu orang-orang itu mulai menghilang satu persatu. Seperti di telan bumi.

Hayati lelah. Dalam diam akhirnya saya menemukan jalan masuk. Ya semacam gua. Saya bergegas masuk ke dalamnya dengan riang. Loket masuk ke dalam tugu Monas ada di dalam. Lorong penghubung. Berada tepat di bawah Jalan yang mengitari tugu.

Lalu muncul kembali di tempat yang saya pikir orang-orang menghilang di telan bumi. Waktu menunjukkan pukul 21.00 sedangkan jam tutup adalah 22.00.

Saya tidak lagi menikmati diorama yang berada di lantai dasar. Bergegas naik tangga dan masuk lift. Beruntung bisa masuk di kloter terakhir.

img_20161202_090522

Sesampainya di atas, saya membayangkan beberapa politisi yang pernah menyampaikan di media akan terjun dari Monas. Saya mengitari area puncak monas dan semuanya diteralis. Bahkan tidak ada ruang untuk sekedar melongokkan kepala. Ketika di bawah saya kira bisa menyentuh puncak monas yang (katanya) dibuat dari emas itu. Mencuilnya, kali aja dapat satu-dua gram. Sebuah kemegahan itu ternyata hanya bisa dilihat dari bawah saja.

Setelahnya kami semua harus segera keluar. Dalam 30 menit kedepan area sekitar tugu Monas harus sudah bersih dari pengunjung.

Aktivitas pekerjaan segera saya rampungkan keesokan harinya. Sore hari baru selesai. Sayangnya batal mendapatkan tiket segera, tetapi dapat di penerbangan jam 5 pagi.

Memesan ojek jam 2 pagi melalui aplikasi Grab. Menempuh waktu 1 jam perjalanan dari Gambir ke Bandara. Sepanjang perjalanan kami saling berbincang mengenai aksi super damai. Bapak Tukang ojek tersebut akan ikut aksi di Monas hari ini. Di akhir perbincangan karena sudah sampai di depan terminal 2F, kami saling mendoakan. Semoga senantiasa diberi kesehatan. Dan aksi super damai hari ini dijauhkan dari hal-hal yang tidak diinginkan.

img_20161202_090704

Pesawat Sriwijaya telah membawa saya menuju ke Jember. Pulang. Banyak yang bertanya kok gak lanjut sampai Jumat. Nganu. Saya mau ngibadah malam jumat e. ALbirru minta Adek.

4 thoughts on “Monas sebelum 2 Desember”

  1. Aku dua kali ke Jakarta (terakhir 6-7 tahun lalu), dan belum sekalipun menginjakkan kaki di Monas. Entah kenapa kayak kurang berminat dan merasa baik-baik saja meski melewatkan landmark kota tertentu. Patung Sura & Baya aja kucuekin tiap ke Surabaya, Tugu di Yogya pisan. Ah sudahlah, sepertinya aku memang nggak gaul 😛

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *