Kali Kelar Kelir Jember

Beberapa kali saya ngobrol serius dengan alm. Noveri tentang kegiatan yang sudah kita lakukan. Resik-Resik Kali. Kegiatan yang bertujuan untuk menggugah kesadaran masyarakat supaya tidak lagi membuang sampah di Sungai.  Ketika itu kami sama-sama ingin merubah konsep kegiatan yang berpindah-pindah tempat.

Dari Hulu ke Hilir  begitu keingingan kami. Supaya minimal ada satu aliran sungai yang benar-benar bersih dan bisa menjadi contoh nyata atas apa yang sudah kami lakukan. Kendala terbesar adalah manusianya. Grebeg Sedekah bukan NGO. Apalagi Kegiatan CSR dari sebuah perusahaan besar. Grebeg Sedekah hanyalah kumpulan orang-orang tanpa ikatan apapun yang ingin melakukan sebuah kegiatan positif dan bermanfaat.

Alm. Noveri Eko Purnomo PIC Resik-Resik Kali

Sebuah video tentang selokan yang berubah wujud menjadi kolam ikan di salah satu daerah di Jogja menjadi viral. Dan seperti biasa, di linimasa bersliweran  postingan dengan caption beragam. Rata-rata kagum dan nyinyir. Ya, nyinyir dengan kotanya sendiri sambil menyalahkan ini, itu, ini, itu. #wisbiasah

Tapi jengah juga sebenarnya.

Setelah bertanya ke beberapa orang lokasi mana yang bisa di buat seperti itu, akhirnya terpilihlah saluran air di pasar burung Djaya. Segera saya menghubungi Haji Cholik Ketua RW 18 Kampung Sawahan, menyampaikan maksud untuk melakukan sedikit perubahan pada saluran air tersebut. Beliau sangat senang dan merespon dengan antusias serta siap mengerahkan warganya.

Tepat, Hari Minggu tanggal 17 September kami melakukan kegiatan Resik-Resik Kali di Saluran Air Pasar Burung Djaya Kampung Sawahan. Kondisi air setelah kegiatan tersebut masih dangkal. Jika dipaksakan memberikan ikan sepertinya eman.

Rangkaian besi sudah dilas untuk menahan sampah dari hulu. Supaya mudah ketika mengambil sampah-sampah tersebut. Tapi untuk mendalamkan sungai sepertinya susah dan ribet.

Membaca kondisi sampah di sungai lantas saya mengelompokkannya menjadi tiga jenis: Sampah kiriman dari hulu, Sampah dari orang yang melintas dan melemparnya ke saluran air tersebut, dan Sampah yang dibuang oleh beberapa warga setempat ke sungai. Jenis yang pertama sudah bisa diatasi dengan besi penahan sampah, tapi yang kedua dan ketiga?

Edukasi sudah jelas. Tapi akan kembali pada permasalahan waktu dan SDM. Apalagi sang inisiator sudah beristirahat dengan tenang. Maka kreativitaslah yang dibutuhkan.

Selokan di Imogiri, Bantul (gambar dari sini)

Kampanye lingkungan sama dengan kampanye masalah pendidikan. Butuh waktu yang panjang dan tidak instant lantaran hasilnya tidak bisa langsung dirasakan. Bergerak di jaman yang menuntut semuanya serba cepat dan instant mau tidak mau membuat kita harus mengikuti ritmenya.

Mewarnai dan menggambar tembok-tembok yang berada di sisi kiri-kanan saluran air Pasar Burung Djaya dengan pesan lingkungan adalah yang terpikir paling mungkin dilakukan saat itu. Dan siapa sangka yang merespon cukup banyak ketika kami menyampaikan membutuhkan donasi cat dan tenaga.

kegiatan pengecatan Kali Kelar Kelir

Awal yang direncanakan hanya melakukan pengecatan sepanjang 20-an meter akhirnya menjadi sepanjang jalan mulai Jalan Trunojoyo VII hingga Jalan Gatot Subroto IV. Delapan belas hari tentu bukan waktu yang sedikit dengan begitu banyak cerita di dalamnya. Pasukan tambahan yang keluar masuk.

Bantuan mural dari Saint Joseph Adventure, Pena Hitam, Yoga and Kiki, E.N.D, dan UKM Lumut Poltek

Dalam masa tersebut bahkan kami mengedukasi langsung warga yang kedapatan buang sampah di sungai. Tidak ada yang mudah dan tidak ada yang sia-sia. Karena dengan menunjukkan hasil dari sebuah lingkungan yang bersih dan nyaman diharapkan kesadaran lingkungan dari warga akan semakin bertambah.

Launching Kali Kelar Kelir

Launching dan Photo Contest adalah bagian kecil dari upaya kami mengakhiri Proyek Kali Kelar Kelir di Kampung Sawahan dengan memberikan edukasi secara langsung dan tidak langsung terkait kesadaran untuk tidak lagi membuang sampah sembarangan.

Ini jelas tidak sempurna. Dan juga tidak selesai. Karena proses pembelajaran apapun itu termasuk masalah lingkungan adalah proses pembelajaran sepanjang hayat. Maka, siapapun kamu baik yang bertepuk tangan atau yang nyinyir, baik yang mensupport penuh ataupun yang mengklaim proyek ini mari sama-sama menurunkan ego. Lingkungan ini tidak akan pernah bersih jika kita  hanya asyik berkomentar saja. Kurangi bicara, singsingkan lengan mari bekerja bersama-sama.

 

Bagimu Negri Mari Berbagi

PIC Kali Kelar Kelir,

Cak Oyong

 

NB:  Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu. Nama-nama orang-orang baik ada di sini    https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=2001072210182540&id=1703229869966777

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *