Ecobrick, Sampahmu Tanggung jawabmu

Ngomongin sampah memang tidak akan ada habisnya. Bahkan kampanye kita tentang sampah bisa dianggap nyampah oleh orang lain lantaran  berulang-ulang dan itu-itu saja.

Bagaimana tidak, setiap hari masing-masing kita memproduksi sampah. Dari berbagai macam artikel, rata-rata setiap orang menghasilkan sampah 0,5-0,8kg perhari . Atau jika dihitung dalam skala rumah tangga mencapai 2-2,5kg perhari. Hitungan itu termasuk keseluruhan jenis baik organik dan anorganik.  Jika dibedakan kembali, perbandingannya bisa menjadi 60 % untuk organik dan 40% untuk anorganik.

Tumpukan sampah di bawah Gladak Tjakol

Kita bisa saja sedikit abai untuk sampah organik. Tapi untuk  yang anorganik alias sampah yang tidak mudah terurai?  Satu orang menghasilkan sampah 0,5kg dikali 40% anorganik dikali 365 hari. Dalam satu tahun saja satu jiwa menghasilkan 73 kg.  Jumlah penduduk Jember menurut BPS dalam Kabupaten Jember Dalam Angka 2015 adalah 2.332.726 jiwa dikali 73 kg maka didapatkan angka 170.289 ton sampah anorganik per tahun.

Jelas saja satu-satunya TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Sampah yang berlokasi di  Kecamatan Pakusari sudah tidak mampu lagi menampung.

Kondisi TPA Pakusari

……………………………………………………………………..

Sampah yang kita hasilkan seharusnya menjadi tanggung jawab kita sendiri. Pernahkah kita berpikir ketika membeli makanan dengan pembungkus plastik, kemanakah berakhirnya pembungkus plastik tersebut nantinya?

Wawasan lingkungan kita sangat minim. Bahkan untuk sekedar membuang sampah pada tempatnya  saja sangat susah. Apalagi untuk memilah sampah berdasarkan jenisnya dan mengolahnya.

…………………………………………………………………….

Sampah menjadi berbahaya jika tidak dipilah dan diolah. Sampah plastik yang dibuang di sungai akan menuju ke laut  menjadi pulau sampah, menjadi  makanan ikan/hewan laut , merusak kelestarian ekosistem di laut. Apabila dibakar maka akan menjadi  polusi udara yang dapat melepaskan zat berbahaya di udara seperti karbon monoksida, dioksin dan furan, volatil maupun partikel berbahaya lainnya. Parahnya lagi, masing-masing senyawa tersebut berefek buruk bagi kesehatan bahkan menyebabkan kanker.

Penyu yang tersiksa akibat sampah plastik manusia. (Gambar dari sini)

Saya pribadi selalu berpikir cara apa yang paling mudah dan praktis untuk mengatasi permasalahan sampah khususnya jenis anorganik ini. Membayangkan sampah yang kita hasilkan masih terus ada hingga 300-500 tahun yang akan datang saja sudah membuat bergidik ngeri. Bagaimana nasib anak cucu nanti.Menanggung dosa lingkungan bahkan ketika kita sudah terkubur. Atau jangan-jangan kita terkubur di tumpukan sampah plastik yang pernah kita hasilkan.

Sementara masih belum menemukan solusi, saya hanya memilahnya menjadi tiga: yang organik saya masukkan lubang supaya menjadi kompos, yang bisa diambil pemulung saya pisahkan, sisanya saya masukkan tempat sampah yang kemudian diangkut oleh petugas.  Walaupun juga belum bisa dengan pasti tahu kemana berakhirnya sampah yang diangkut petugas, apakah ke  depo menuju TPA atau malah ke sungai juga.

Ada banyak solusi yang ditawarkan sebenarnya oleh para pegiat lingkungan:

  1. Sampah plastik menjadi biji plastik, solusi ini hanya mampu dilaksanakan oleh perusahaan besar.
  2. Sampah plastik menjadi aspal. Ini juga sama, yang mampu hanya perusahaan besar.
  3. Sampah plastik menjadi bahan bakar. Di Blitar ada kelompok yang bisa membuat mesin mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar dengan motor penggeraknya berupa mesin diesel. Namun harganya yang sekitar 25 juta tentu memberatkan jika ditanggung sendiri. Urunan? waduh, jelas susah. bahkan untuk iuran kebersihan saja masih banyak yang malas-malasan. Kembali ke wawasan lingkungan yang memang parah.
  4. Sampah plastik menjadi kerajinan tangan seperti tas, taplak, hiasan, dsb. Ini juga solusi baik namun masih susah menggugah banyak orang dengan menjalankannya sendiri-sendiri.

Dari kegiatan Resik-Resik Kali yang sering dilakukan oleh Grebeg Sedekah bisa diperoleh kesimpulan sederhana bahwa mayoritas sampah yang dibuang ke sungai adalah popok bayi sekali pakai dan pembalut wanita. Sampah ini juga termasuk sampah anorganik.

Resik-Resik Kali Jembatan Jl. Jawa

Ketika saya searching untuk pengolahannya rupanya ada. Isi popok bayi yang berupa gel ternyata bisa dijadikan media tanam. Manfaatnya untuk menyimpan air. Bisa dipergunakan di kawasan-kawasan yang mengering di musim kemarau. Pembalut wanita pun sama. Hanya saja beda perlakuan. Jika popok bayi bisa dicampur dengan tanah, namun untuk pembalut wanita cukup membuat lubang guna memasukkannya di dekat akar.

Pada saat searching tersebut lantas saya membaca ecobrick.  Karena penasaran, akhirnya membaca semua artikel yang berkaitan dengan ecobrick. Jika suka melihat kartun yang kemudian pada satu adegan muncul lampu dop yang berpijar pada salah satu tokoh ketika mendapatkan ide, seperti itulah kira-kira yang saya rasakan. Tentu bukan ide saya, saya hanya merasa menemukan solusi yang cocok untuk sampah plastik ini.

Adalah pasangan Russell Maier dan Ani Himawati  yang menemukan ide gagasan ecobricks ini.  Berawal dari keprihatinan akan sampah yang berserakan dan mencemari lautan antartika. Saya sebenarnya sudah tahu ecobrick. Namun berbeda dengan gerakan ini. Ecobrick yang saya tahu adalah mengganti bata dengan botol (plastik/kaca) yang diisi dengan pasir. Gerakan ecobrick ini hanya memanfaatkan botol plastik yang memiliki daya tahan paling kuat  dan mengisinya dengan     benda-benda yang tidak dapat terurai secara biologis: segala jenis plastik,busa, pembungkus, dan selofan. Untuk ukuran botol 600ml mampu menampung sampah plastik seberat 200-250gram.

Sangat mudah bukan? Maka setiap orang bisa mengaplikasikannya  sendiri di rumah masing-masing.  Saya sendiri sudah berhasil membuat tiga buah ecobricks dan sudah bercita-cita membuat tembok kecil untuk Gumuk di halaman masjid. Kamu mau? Ayo bersama-sama melakukan gerakan Ecobrick dimulai dari rumah sendiri dan menghasilkan sesuatu dari ecobricks yang kita punya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *