City Branding Jember

Angin subuh begitu melenakan untuk membuat mata kembali terpejam.  Udara Agustus yang khas.  Masih ada cukup waktu menuju pukul 08.00 nanti.

Aroma  kopi  yang  tersaji  di  atas  meja  mampu  membangunkan indra penciuman. Bergegas saya menuju kamar mandi. Ada waktu 30 menit.

Namun, rupanya tidak cukup. Demi memperkuat usaha yang saya lakoni akhir-akhir ini membuat saya berkutat di depan almari baju dengan cukup lama. Memadumadankan pakaian yang satu dengan celana jeans yang saya miliki satu-satunya.

Menyeruput kopi. Memasukkan handphone dan sebuah buku ke dalam sling bag rajutan asal Jogja. Dan bergegas berangkat setelah pamitan ke istri tercinta. Anak Lanang sudah pergi bermain rupanya.

08.30 Aston Hotel sudah cukup ramai. Setelah memarkir sepeda motor, saya langsung menuju lobi hotel. Rupanya harus melewati metal detector. Penjagaan cukup ketat. RI 1 sedang bergerak menuju Jember.

Ya, hari ini saya hadir di JFC Conference atas undangan dari Monalisa  Shinta melalui Indah Setyorini. “Menuju Kota Karnaval Dunia” begitu kira-kira tema yang tersemat dalam Konferensi hari ini. Beberapa kawan-kawan hebat pun turut hadir. Diantaranya adalah Pak Supo dari Tanoker, Riyadi Ariyanto dari Berbagi Happy, Samsul Hadi dari Rumah Pintar, Komunitas Masyarakat Film Jember, Komunitas Reptil Jember, dan lain-lain.

Dari Majalah Venue selaku salah satu penyelenggara acara ini, tertulis bahwa Menteri Pariwisata Arief Yahya mengeluarkan SK tentang Penetapan Jember sebagai Kota Karnaval Dunia. Bukankah ini sedang mem-branding Jember? Semudah itu?

JFC XIV (Dokumentasi Pribadi)

 

Sebenarnya brand dari kota Jember itu apa sih? Kota Seribu Gumuk? Kota tembakau? Kota kopi? Kota tape? Kota pandalungan? Kota karnaval?

Tema hangat yang serasa membangunkan kesadaran kita sebagai wong Njember untuk bertanya, “Jane Njember iku kuto opo sih?”

Menurut saya, brand sebuah kota harus tercipta dari kesepakatan bersama baik dari masyarakatnya, pemerintahnya pun orang di luar kota tersebut yang meng-amin-i. Bahkan, sekalipun Presiden yang menyematkan brand tersebut tetap bukan menjadi jaminan kota itu akan ter-branding dengan baik.

Karena JFC telah berlangsung selama 16 tahun dan diakui oleh media asing sebagai salah satu penyelenggaraan karnaval yang terbaik di dunia adalah alasan yang mendasari penyematan Brand “Kota Karnaval Dunia” pada Jember. Terlepas dari sepakat atau tidak sepakat.  Yuswohady menyampaikan dalam paparan singkatnya di konferensi tersebut bahwa City Brand  yang kuat adalah ketika semua aspek turut mendukung. Baik itu infrastruktur, agenda kegiatan pariwisata selama setahun, pun juga manusianya.

Tajemtra 2013. Foto dari sini

Dalam setahun hanya ada tiga karnaval besar di  Jember. JFC yang dilaksanakan setahun sekali selama 4 hari. Gerak Jalan TAJEMTRA yang dilaksanakan di tiap bulan Agustus. Dan Festival Egrang Tanoker di Ledokombo yang juga dilaksanakan pada bulan Agustus. Maka, 11 bulan yang lain akan sepi karnaval. Apakah masih pantas menyandang Brand Kota Karnaval Dunia?

Festival Egrang Tahun 2012 (Dokumentasi Pribadi)

Maka coba kita tengok sebentar beberapa kata yang kita ingat dan berhubungan dengan Jember.  Suwar-suwir dan Tape. Sebagai orang yang lahir dan besar di Bondowoso, tentu saja saya tidak rela  jika semisal Jember disandingkan dengan kata “Tape”. Ah, abaikan saja saya. Begini saja, berapa banyak petani singkong sebagai pemasok utama bahan baku pembuatan tape dan dari tape ke suwar suwir?  Di blog milik Nur Aliyah berdasarkan wawancaranya  jelas disebutkan bahwa 90% bahan baku yang digunakan untuk suwar suwir berasal dari kiriman tape bondowoso. Petani Tape bondowoso bisa ditemukan di desa-desa kecamatan wringin. Apakah di Bondowoso tidak ada Suwar Suwir? ya jelas saja ada. berbagai macam olahan tape dijual di toko oleh-oleh di Bondowoso.

Tentang Kota Seribu Gumuk inipun menjadi sesuatu hal yang miris. Kekayaan ekologi yang kita sadari, kita sepakati karena memang begitu nyata namun kita abaikan karena faktor tuntutan ekonomi pemilik lahan. Rencana pendataan  ulang Gumuk pun masih sebatas wacana.

Kota Pandalungan menjadi yang terhangat yang dikait-kaitkan dengan Jember.  Dewan Kesenian Jember yang reborn di Pemerintahan Bupati Faida pun mengusung-usung Budaya PANDALUNGAN dan sering melakukan kegiatan di Warung Kembang dan membentuk Rumah Budaya Pandhalungan. RZ Hakim bercerita kepada saya mengenai “Pandhalungan”, “budaya pendalungan/pandalungan/pendhalungan kuwi ahistoris, lahir dari rahim akademisi lemlit unej, dan cenderung bicara soal mayoritas-minoritas (suku) saja. Kalau ‘jemberan’ kuwi tidak mewakili semua kecamatan, sebab, misalnya warga kalisat, mereka tidak merasa jemberan. Soale wong2 kalisat kalau mau ke kota mereka akan bilang, “saya mau ke jember.”

Maka, selama ini beragam kata yang disematkan untuk Jember sebagai sebuah brand belum sepenuhnya mewakili Masyarakat Jember. Lantaran “brand” tersebut lahir dari atas entah itu birokrasi atau akademisi  dan bukan yang memang muncul dari bawah, dari keinginan masyarakat.

Saya jadi teringat bagaimana gejolak yang muncul di Jogja  ketika logo baru Jogja yang diplesetkan menjadi TOGUA melahirkan sebuah kebersamaan untuk membuat  logo bareng-bareng yang lebih keren.

Coba saya pancing semua yang membaca tulisan ini. Adakah yang tahu tagline dan logo Jember? Yang tentu saja dibuat oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jember (waktu itu bernama Kantor Pariwisata).

Konferensi yang berjalan selama 6 jam ini sebenarnya terasa tidak lengkap. Tidak ada pemangku kebijakan yang turut hadir. Semua sedang sibuk menyambut kedatangan Rombongan Presiden RI.  Maka yang tersisa adalah pertanyaan-pertanyaan yang mengganjal. Apa yang akan dilakukan oleh Pemangku Kebijakan atas tersematnya sebuah brand “Kota Karnaval Dunia”?

Terakhir, dalam paparan Mas Jay yang pernah saya ikuti beberapa minggu yang lalu menyampaikan bahwa BRAND = MERK + NILAI. Jadi, apapun Brand yang nantinya disepakati yang terpenting adalah NILAI apa yang bisa dirasakan oleh semua masyarakat.

*tulisan ini diperbarui setelah tulisan awal yang lebih pendek muncul di facebook satu jam yang lalu

** direncanakan akan ada jagongan kecil-kecilan untuk meluapkan kegelisahan kita tentang city brand Jember

2 thoughts on “City Branding Jember”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *