Bedhag Kopi dan Hujan yang rintik

Hujan masih saja turun ketika kami menembus petang. Menunaikan janji untuk AL. Sejak kemarin, dia terus merengek “Bi, tapi janjung… tapi janjung”. Yang dimaksud lelaki kecil itu adalah Kereta Api Sritanjung. Setelah beberapa minggu sebelumnya saya dan istri pernah mengajaknya melihat Kereta Api Logawa di pintu perlintasan kereta persis sebelum Stasiun kereta api Jember. Dia mengingat dua nama kereta api yaitu Janjung (Sritanjung) dan Gawa (Logawa).

Waktu menunjukkan pukul 18.18 ketika kami sampai di depan sebuah warung seberang pintu perlintasan kereta. Saya buka aplikasi tiket kereta di smartphone, ternyata Sritanjung tiba di Stasiun Jember pukul 18.25 dan melanjutkan perjalanannya menuju matahari terbitnya Jawa. ALbirru merengek minta agar pintu perlintasan segera ditutup.

Dan ketika pintu perlintasan mulai ditutup, begitu sumringah wajahnya. Dari kejauhan sudah nampak sinar lampu helogen yang terpancar dari Kereta Api Sritanjung. AL terus saja memperhatikan Sritanjung melaju hingga pintu perlintasan kembali dibuka. Entah,mungkin hampir semua anak laki-laki seusianya begitu menyukai kendaraan darat yang panjang itu. Nampak juga beberapa orang tua dan anak-anaknya asyik menyaksikan tontonan serupa.

Setelah menunaikan janji pada ALbirru, saya melanjutkan janji pada beberapa kawan. Sepeda matic saya bawa melaju melewati jalanan kampus yang cukup lengang tidak seperti biasanya. Hujan masih rintik-rintik, sepeda saya parkir di teras sebuah rumah makan. Di sebelahnya sepasang suami istri menyambut kami dengan ramahnya. Bangunan yang sedianya akan dijadikan bangunan atm itu telah menjadi Warung Kopi dengan nama “Bedhag Kopi“.

whatsapp-image-2016-11-10-at-7-18-15-am

Barangkali TUHAN menciptakan kopi supaya kita semua bisa berteman – Bedhag Kopi

Bedhag Kopi baru buka hari Sabtu kemarin. Warung kopi ini mengusung konsep vintage dan hanya menyajikan kopi asli Jember khususnya kopi yang dihasilkan di Sukmaelang pada ketinggian 1300 mdpl. Tersaji Robusta, Liberica dan Arabica dengan satu macam proses penyajian yaitu Tubruk.

whatsapp-image-2016-11-10-at-7-18-14-am

Kopi Tubruk Arabika Sukmoelang

Mas Doni si empunya Warung ini akhirnya menceburkan diri ke dunia kopi lantaran dia butuh produk minuman untuk menyandingkan dengan produk cake buatan istrinya. Mbak Indah sebenarnya yang pertama kali terjun di bisnis kuliner. Cukup terkenal dengan Jember Strudel nya namun juga mahir membuat ragam dessert. Bahkan, beberapa tempat tongkrongan di sekitar kampus meminta beliau untuk mengisi menu dessert mereka. Mas Doni kerap kebingungan jika Mbak Indah ditawari ikut pameran untuk mengisi stand mewakili instansi pemerintah. Menyajikan cake pada pameran seharusnya lengkap dengan produk minuman. Beberapa kawan termasuk juga saya pribadi sering diajak beliau namun banyak tidak bisanya karena kondisi tenaga yang tidak memungkinkan.

Berawal dari itulah akhirnya Mas Doni mulai mempelajari bisnis kopi dan kini telah memiliki petani binaan di Sukmoelang. Bahkan beliau telah membeli sebidang tanah di dataran tinggi sana. “Bisnis kopi masih sangat menjanjikan karena sudah menjadi bagian dari gaya hidup” begitu kata Bapak beranak tiga ini.

whatsapp-image-2016-11-10-at-7-18-16-am

Istri dan ALbirru sedang asyik menikmati coklat hangat yang juga tersaji di bedhag kopi

Bisnis kopi memang masih sangat legit. Terbukti di kawasan kampus saja ada puluhan tempat ngopi bertebaran. Mulai dari yang bermodel warung hingga cafe. Mulai dari yang murah hingga yang mahal. Tentu saja ada yang sudah bubar jalan dan ada yang masih berdiri tegak sekalipun sudah bertahun-tahun. Kuncinya ada pada keberanian. Dan….

“Bi… Bi…. pulang yuk”, sahut istri membuyarkan lamunanku yang sedang berasyik masyuk menerawang dunia kopi. Perempuan cantik ini tiba-tiba saja sudah berdiri disampingku dengan wajah yang sedikit ditekuk. Ah, rupanya dia bosan. Rupanya lelaki dan perempuan sama saja. Jika sudah nongkrong sering lupa sama pasangannya. Setelah berpamitan pada Mas Doni dan Mbak Indah, kami segera pulang.

Dalam perjalanan menuju rumah, ALbirru masih asyik berceloteh, “Bi… Bi… tut tuuuuutttttt…. bambo… bambo… bambo….”. Dunia anak kecil begitu mengasyikkan dan riuh dengan imajinasi. Itu tadi bunyi kereta yang dicampur dengan bunyi sirine mobil polisi.

One thought on “Bedhag Kopi dan Hujan yang rintik”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *