Anak Kedua dan Pertanyaan yang Berulang

Jika kamu hidup di Indonesia maka sepanjang hidupmu pasti akan dihadapkan dengan pertanyaan yang berulang. Pertanyaan yang akan selalu dimulai dengan kata “Kapan”. Bagi Generasi Z akan menyebutnya dengan kata “kepo”. KEPO adalah bahasa gaul kekinian yang merupakan akronim dari Knowing Every Particular Object. Mungkin karena sisi ketimuran kita yang ramah kepada orang lain ya hingga seolah-olah harus tahu setiap detail kehidupan orang lain.

Pertanyaan akan dimulai dari Kapan Lulus bagi yang berpredikat Mahasiswa dan dilanjutkan dengan Kapan Nikah. Sudah cukup pertanyaannya? Sudah pasti belum karena akan berlanjut pada Kapan punya Anak? Kapan punya Anak kedua? Hingga Kapan punya cucu?

Pertanyaan akan semakin sering kita hadapi ketika berkumpul bersama keluarga besar seperti pada saat mudik atau saudara yang punya hajatan besar. Sudah pasti menjengkelkan dan rasanya ingin bawa lakban buat menutup mulut mereka.

Karena Setiap Kehidupan Manusia itu Berbeda. (Gambar diambil disini)

Karena Setiap Kehidupan Manusia itu Berbeda. (Gambar diambil disini)

Saya menulis ini karena sekarang mulai merasakan lagi pertanyaan berulang tersebut. Ya, walaupun tidak sejengkel ketika pertama kali mendapatkan pertanyaan-pertanyaan itu pertama kali. Saya memang terbebas dari pertanyaan kapan lulus dan kapan nikah karena bisa dibilang wisuda dan nikahnya tepat waktu. Tapi tidak untuk memiliki keturunan.

Butuh waktu empat tahun lebih hingga istri saya hamil dan lima tahun lebih hingga saya memiliki anak pertama. Jadi ya selama empat tahun itu saya dan istri menghadapi pertanyaan Kapan punya anak dari hampir siapa saja yang jarang bertemu kami. Mulai dari shock, marah, jengkel, sedih, kecewa hingga sabar dan pasrah. Mereka menanyakan seolah-olah membuat anak hanya tinggal tidur bersama dan langsung “ndung”.

Dan sekarang hingga Anak Pertama saya lahir sampai berumur 3 tahun 8 bulan ini upaya kami untuk menghasilkan anak kedua juga belum terwujud. Maka sepanjang itu dan entah berapa lama lagi kami akan mendapatkan pertanyaan, Kapan punya anak lagi? Kapan AL punya adek? dan pertanyaan-pertanyaan lain dengan maksud serupa.

Mereka seolah merasa berhak untuk menanyakan semua itu. Padahal mereka tidak pernah tahu seberapa besar upaya kita untuk mewujudkan semua itu. Seberapa besar perjuangan kita untuk mendapatkan semua itu. Karena mereka tidak ingat bahwa jika TUHAN belum berkehendak sebesar apapun upaya dan perjuangan kita maka tetap tidak akan sampai hingga waktunya tiba.

Mereka menanyakan karena menganggap seharusnya apa yang terjadi pada mereka akan sama jadinya pada kita. Jika mereka mudah lulus kuliah akan menganggap seharusnya kita pun sama. Jika mereka mudah mendapatkan jodoh dan langsung nikah akan menganggap seharusnya begitu juga pada kita. Jika mereka mudah memiliki keturunan pun akan menganggap seharusnya mudah juga bagi kita.

Jadi berhentilah bertanya dan cukupkan saja dengan berdoa diam-diam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *