Anak-anak Merdeka

“Saya iri dengan  anak-anak. Hidup mereka  sepenuhnya diisi dengan bermain dan bersenang-senang, tidak memikirkan perkara-perkara rumit yang membebani pikiran, kadang hingga perasaan. Yang mungkin mereka pikirkan adalah bagaimana bisa bermain dan bersenang-senang, itu saja. Bahagia.”

Tulisan Fawaz di atas dalam bukunya “Yang Menyublim Di Sela Hujan, Cerita Tentang Pengalaman Belajar Mengajar di Sokola Asmat” menggambarkan apa yang saya alami tepat 17 Agustus beberapa hari yang lalu.

Dokumentasi milik Fawaz

…………………………………………………

Mata ini masih berat terasa. Semalam baru tidur ketika hari sudah berganti. Kalah dalam perlombaan Gaple. Tak apalah, toh sudah mendapatkan kipas angin hadiah menjawab kuis. Pertanyaan berapa butir-butir dalam Pancasila tentu mudah saja. Asal jangan disuruh membacakan isi-isinya.

Pukul 06.00 saya baru berangkat menuju Warung Kopi Cak Wang di Jalan Mastrip. Rencananya  Grebeg Sedekah akan berkunjung ke Slerok, sebuah pemukiman bagi penderes getah pinus di kaki gunung Raung. Tepat pukul 07.00 kami berangkat dengan total tujuh orang.

Perjalanan menggunakan sepeda motor ditempuh dengan waktu 1,5 jam. Di Slerok kami langsung disambut kemeriahan merah putih di sisi kanan kiri jalan menuju perkampungan.  Anak-anak sudah bergerombol di depan musholla.

Kami akan mengadakan lomba bikin nasi goreng menggunakan tumang yang dibuat sendiri. Ketangkasan mereka dalam membuat tumang sendiri tak perlu diragukan. Menyatu dengan alam sudah menjadi bagian dari kehidupannya. Saya tentu saja tidak ada apa-apanya dibanding mereka. Tak sampai 5 menit mereka sudah berhasil membuat bara api, sedangkan ketika tiba giliran saya perlu waktu hampir satu jam. Itupun masih dibantu mereka mencarikan kulit pinus.

Membuat Nasi Goreng menggunakan Tumang

 

Anak-anak itu masih berada di rentang usia Sekolah Dasar. Kami mengenalnya dalam lima tahunan ini. Slerok adalah lokasi pertama kegiatan sosial yang dilakukan oleh Grebeg Sedekah. Terdiri dari 30-an Keluarga di awal kami masuk wilayah ini. Walaupun sekarang sudah semakin banyak keluarga yang turun karena mengikuti anak-anaknya.

Di tahun 2011 mereka membuat sebuah Ruang Kelas sendiri untuk anak-anaknya bersekolah supaya tidak terlalu jauh. Sebab sebelumnya anak-anak harus menempuh jarak 3km  untuk turun ke bawah bersekolah di SDN Slateng 2. “Kelas Jauh”, begitu mereka menyebutnya.  Namun,  sejak 2014 Anak-anak kembali turun ke bawah untuk bersekolah lantaran tak ada Guru yang mengampu.

Di setiap liburan kami selalu menyempatkan untuk berkunjung dan bercengkrama bersama mereka. Melihat tawa bahagia anak-anak Slerok selalu memberikan suntikan semangat baru untuk kami. Seperti tingkah polah mereka saat perlombaan dilanjutkan dengan Karung Racing. Tak henti-hentinya kami tertawa.  Jika kalian ingin tahu arti sebenarnya dari “Bahagia itu Sederhana” ya memang mesti sering-sering bermain bersama anak-anak persis seperti apa yang dituturkan Fawaz di paragraf atas.

……………………………………………..

Saya mengenal Fawaz melalui lingkaran pertemanan RZ Hakim dan Nanda Kernet. Ketika Tim Sokola Rimba gelisah dengan pemberitaan di sebuah Media mengenai Jember  yang mendapat  predikat sebagai Kota dengan Jumlah Buta Aksara tertinggi. Fawaz dan Kang Oceu berada dalam Tim tersebut.

Pada akhirnya, Hasil survey dari Sokola memutuskan untuk membuat program Sokola Kaki Gunung di Dusun Sumbercandik, Desa  Panduman, Kecamatan Jelbuk.  Kami menyebut daerah tersebut dengan Sukmo Elang.

Dokumentasi milik Fawaz

Kualitas Pendidikan di Jember memang tidak merata. Bukan hanya di Slerok dan Sukmo Elang, masih ada Mojan, Jambe arum, Tenap, Tempurejo dan kawasan-kawasan lain yang rata-rata  berada di lereng gunung atau punggungan bukit.

Tahun 2013 bersama Grebeg Sedekah, saya pernah menginisiasi program Relawan Pengajar untuk ditempatkan di daerah-daerah yang saya sebutkan di atas. Namun tidak berhasil. Jelas saja selain permasalahan dana juga pengalaman saya yang kalau dibandingkan dengan Fawaz  tentu hanya serupa butiran upil saja.

Kita sepakat bahwa mereka, anak-anak itu adalah masa depan Bangsa. Tapi tidak ada upaya untuk menjadikannya masa depan terbaik. Kita kerap abai. Seolah-olah tidak turut serta memiliki tanggung jawab sosial terhadap hal tersebut.

Jember, yang kita sama-sama tahu memiliki beberapa Perguruan Tinggi yang besar dengan jumlah Mahasiswa yang banyak. Namun memiliki banyak tempat yang kualitas pendidikannya tidak sama dengan sekolah-sekolah di kota. Bahkan hingga berpredikat Kota dengan Jumlah Buta Aksara terbanyak. Apa kabar program KKN di Perguruan Tinggi? Sebatas nama di gapura desa sajakah?

Hadirnya Fawaz dengan Tim Sokola Kaki Gunung tentu membawa harapan semoga banyak mahasiswa yang turut terinsirasi gerakan tersebut. Mengambil pelajaran dari kisah dan pengalaman Fawaz di Sokola Rimba Bukit 12 Jambi pun Sokola Asmat di Mumugu Batas Batu yang telah berhasil dibukukannya. Walaupun sayangnya tidak ada gambaran visual dalam buku tersebut.

…………………………………….

Jember sebenarnya memiliki Penggerak Pendidikan yang cukup banyak. Ada Almarhum Prof. Ayu Sutarto dengan Gerakan Untukmu Si Kecil (USK), Pak Supo dan Mbak Cici dengan Tanokernya, Pak Iman Suligi dengan Kampoeng Batja nya, Riyadi Ariyanto dengan Berbagi Happy, kawan-kawan YPSM, Bu Iin di Kencong dengan Taman Baca Kemuning, MBak Yulia dengan Rumpun Aksara, Alfan dengan Pemuda Condro, Samsul Hadi dengan Rumah Pintar,  dan masih banyak lagi penggerak-penggerak pendidikan yang lain.

Namun rupanya permasalahan pemerataan pendidikan jauh lebih banyak daripada penggeraknya.

Di Moment kemerdekaan ini, bolehlah kita kembali berharap agar anak-anak di seluruh Indonesia pun bisa merdeka. Merdeka bermain, Merdeka berekspresi dan Merdeka dalam Belajar. Demi mereka yang kita sebut  Generasi Masa Depan Bangsa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *